Beranda

Sunday, September 16, 2018

Fisiologi Hewan: Neuron dan Fisiologisnya


Neuron merupakan unit kerja fungsional dari sistem saraf. Sistem saraf  merupakan salah satu sistem terpenting dalam tubuh, sistem saraf bekerja sama dengan sistem endokrin dalam menjalankan fungsi serta membuat kontrol dan sistem koordinasi pada hewan. Sistem saraf sendiri disusun oleh dua tipe sel, yaitu sel neuron dan sel glia. Namun, pada pembahasan kali ini kita akan berfokus pada neuron dan fisiologinya dalam tubuh.
A.      Komponen Penyusun Neuron
Neuron berhubungan khusus dengan proses dan transmisi dari sinyal antar sel. Melihat dari keanekaragaman fungsi yang ditunjukkan oleh neuron dalam sistem saraf, maka terdapat berbagai macam bentuk, ukuran, dan sifat elektrokimia dari neuron. Contohnya, soma dari sebuah neuron bisa memiliki ukuran diameter mulai dari 4-100 mikrometer. Soma atau badan sel adalah bagian pusat dari sebuah neuron, di dalam nya terdapat nukleus sel, dan merupakan tempat dimana sintesis protein paling sering terjadi. Nukleus pada neuron memiliki diameter yang berkisar antara 3-8 mikrometer (Wikibooks Contributors, 2006). Selain nukleus, di dalam badan sel jua terdapat sejumlah organel lain seperti mitokondria, retikulum endoplasma, dan aparatus golgi. Badansel juga berfungsi sebagai tempat sintesis neurotransmitter, yaitu senyawa kimia yang penting untuk membantu penjalaran impuls melintasi sinaps. Dari badan sel tampak sejumlah penonjolan sitoplasmik ke arah luar, membentuk struktur yang disebut dendrit dan akson (Isnaeni, 2009).
Dendrit pada neuron merupakan perpanjangan dari sel yang memiliki banyak cabang, dan seringnya bentuk dan struktur itu disebut pohon dendrit. Dendrit merupakan jalan untuk masuknya informasi ke neuron, tetapi arus balik dari informasi (perpindahan informasi dari dendrit ke neuron lainnya) juga dapat terjadi. Hal tersebut merupakan salah satu cara konduksi impuls saraf (Wikibooks Contributors, 2006). Membran plasma dari dendrit (dan badan sel) memiliki banyak daerah reseptor untuk mengikat pesan kimia/impuls saraf dari sel lain. Selain bercabang-cabang, biasanya dendrit juga berbentuk pendek dan meruncing (Tortora dkk, 2016).
Akson pada neuron menyerupai kabel yang lebih halus, yang bisa memanjang hingga puluhan, ratusan, bahkan puluhan ribu diameternya dibandingkan dengan panjang soma. Akson membawa sinyal saraf menjauh dari soma (dan juga membawa informasi kembali ke soma). Kebanyakan neuron hanya memiliki satu akson, tetapi akson tersebut mengalami percabangan yang luas, sehingga memungkinkan komunikasi dengan banyak sel target. Bagian akson yang muncul dari soma disebut “axon hillock”(Wikibooks Contributors, 2006). Bagian dari akson yang berdekatan dengan axon hillock disebut initial segment. Pada banyak neuron, impuls saraf timbul di daerah persimpangan antara axon hillock dan initial segment yang disebut zona trigger. Sebuah akson mengandung mitokondria, mikrotubula, dan serabut saraf. Dikarenakan retikulum endoplasma kasar tidak ada, maka sintesis protein tidak terjadi di dalam akson. Sitoplasma dari akson, disebut aksoplasma, dikelilingi oleh membran plasma yang disebut aksolemma. Cabang samping dari akson disebut akson kolateral, biasanya berada di sisi kanan dari akson. Akson dan bagian kolateralnya berakhir di daerah yang terbagi menjadi banyak cabang, yang disebut akson terminal atau akson telondria. Daerah komunikasi antara 2 neuron atau antara 1 neuron dan satu sel efektor disebut sinaps. Ujung dari akson terminal membengkak menjadi berbentuk gelembung yang disebut ujung gelembung sinapsis (synaptic end bulbs) (Tortora dkk, 2016).

Gambar 5. Struktur utama dari neuron (sel saraf)
(Sumber: Tortora dkk, 2016)
Akson ada yang dilapisi oleh selubung mielin dan ada yang tidak (Isnaeni, 2006). Mielin adalah substansi lipid yang ada pada membran plasma sel Schwann. Ketika sel Schwann mengelilingi/membungkus akson, sebuah selubung mielin terbentuk. Terdapat pula celah/daerah tanpa mielin yang membungkus akson, celah ini disebut Nodus Ranvier (Wikibooks Contributors, 2006).

B.       Klasifikasi Neuron
Neuron dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah tonjolan-tonjolan yang berasal dari badan selnya. Berdasarkan klasifikasi ini, terdapat tiga tipe neuron yaitu neuron multipolar, neuron bipolar, dan neuron unipolar (Santoso, 2009). Neuron multipolar, biasanya memiliki beberapa dendrit dan satu akson. Kebanyakan neuron di otak dan spinal kord memiliki tipe ini, begitu juga dengan semua neuron motorik. Neuron bipolar, memiliki satu dendrit utama dan satu akson. Mereka ditemukan dalam retina mata, bagian dalam telinga, dan pada area olfaktori otak. Neuron unipolar, memiliki banyak dendrit dan 1 akson yang bergabung bersama untuk membentuk sebuah proses kontinu yang muncul dari badan sel. Dendrit pada kebanyakan neuron multipolar berfungsi sebagai reseptor sensoris yang mendeteksi stimulus sensoris seperti sentuhan, tekanan, sakit, atau stimulus panas. Zona pemicu impuls saraf dalam sebuah neuron unipolar adalah di daerah persimpangan antara dendrit dan akson (Tortora dkk, 2016).

Gambar 6. Tiga tipe neuron berdasarkan jumlah juluran (prossesus) dari badan
selnya yaitu (a) multipolar, (b) bipolar, dan (c) unipolar
(Sumber: Tortora, 2016)


Gambar 7. Berbagai bentuk sel neuron (a) Neuron sensoris pada mamalia, (b) neuron serebrum mamalia, (c) neuron motoris vertebrata
(Sumber: Santoso, 2009).

Sedangkan, berdasarkan fungsinya, sistem saraf dibentuk oleh tiga kelas neuron: neuron sensoris (aferen), neuron motoris (eferen), dan interneuron (antarneuron). Divisi aferen susunan saraf tepi terdiri dari neuron aferen, yang berbeda bentuknya dari neuron eferen dan antarneuron (Sherwood, 2009).
1.         Neuron Sensoris (Aferen)
Divisi aferen membawa informasi ke sistem saraf pusat, memberi tahu tentang lingkungan eksternal dan aktivitas internal yang sedang diatur oleh susunan saraf (a berasal dari ad, yang berarti "menuju", feren berarti "membawa'; karena itu, aferen artinya "membawa ke") (Sherwood, 2009). Neuron sensoris (aferen) berfungsi untuk menyampaikan informasi dari jaringan dan organ menuju ke sistem saraf pusat.  (Wikibooks Contributor, 2006). Secara sederhana dapat dipahami bahwa fungsi neuron sensoris adalah menghantarkan informasi atau impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang.
Ketika sebuah stimulus yang tepat menggerakkan sebuah reseptor sensoris, neuron sensoris membentuk sebuah potensial aksi di dalam aksonnya dan aksi tersebut disampaikan ke dalam sistem saraf pusat melalui saraf tengkorak atau saraf tulang belakang. Kebanyakan neuron sensori berstruktur unipolar (Tortora dkk, 2016). Badan sel neuron aferen, yang tidak mengandung dendrit dan input prasinaps, terletak dekat dengan medula spinalis. Akson perifer panjang, yang sering disebut serat aferen, berjalan dari reseptor ke badan sel, dan akson sentralyang pendek berjalan dari badan sel ke dalam medula spinalis. Potensial aksi dimulai di ujung reseptor akson perifer sebagai respons terhadap rangsangan dan merambat di sepanjang akson perifer dan akson sentral menuju medula spinalis. Ujung akhir akson sentral menyebar dan bersinaps dengan neuron-neuron lain di medula spinalis sehingga informasi tentang stimulus disebar. Neuton-neuron aferen terutama terletak di sistem saraf perifer. Hanya sebagian kecil dari ujung akson sentral yang berproyeksi ke dalam medula spinalis untuk menyalurkan sinyal perifer (Sherwood, 2009).
2.         Neuron Motoris (Eferen)
Neuron eferen mengirimkan sinyal dari sistem saraf pusat ke sel efektor dan kadang-kadang disebut juga neuron motorik (Wikibooks Contributors, 2009). Instruksi dari sistem saraf pusat disalurkan melalui divisi eferen ke organ efektor-otot atau kelenjar yang melaksanakan perintah agar dihasilkan efek yang sesuai (e berasal dari eks, yang berarti "dari"; karena itu, eferen berarti "membawa dari"). Sistem saraf eferen dibagi menjadi sistem saraf somatik, yang terdiri dari serat-serat neuron motorik yang menyarafi otot rangka; dan sistem saraf otonom, yang terdiri dari serat-serat yang menyarafi otot polos, otot jantung, dan kelenjar. Sistem yang terakhir ini dibagi lagi menjadi sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis, di mana keduanya menyarafi sebagian besar organ-organ yang disarafi oleh sistem saraf otonom (Sherwood, 2009). Sehingga dapat dipahami bahwa fungsi neuron motoris adalah mengirim informasi/impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang akan menghasilkan tanggapan tubuh terhadap rangsangan tersebut.
Neuron eferen membawa potensial aksi pergi dari sistem saraf pusat menuju efektor (otot dan kelenjar) di dalam sistem saraf tepi melalui saraf tengkorak atau saraf tulang belakang. Struktur semua neuron motoris bertipe multipolar (Tortora dkk, 2016). Neuron eferen juga terutama berada di susunan saraf tepi. Badan-badan sel neuron eferen berada di sistem saraf pusat, tempat banyak masukan prasinaps yang terletak sentral berkonvergensi pada mereka untuk mempengaruhi output ke organ efektor. Akson-akson eferen (serat eferen) meninggalkan sistem saraf pusat untuk berjalan ke otot atau kelenjar yang mereka sarafi, menyampaikan keluaran terpadu mereka ke organ efektor untuk menimbulkan efek. (Jalur saraf otonom terdiri dari rantai dua-neuron antara sistem saraf pusat dan organ efektor) (Sherwood, 2009).
3.         Interneuron (antarneuron)
Interneuron menghubungkan antar neuron di daerah tertentu pada sistem saraf pusat (Wikibooks Contributors, 2009). Neuron terletak di antara neuron sensoris dan motoris. Interneuron mengintegrasikan informasi sensori yang masuk dari neuron sensoris dan kemudian memperoleh sebuah respons motorik dengan mengaktifkan neuron motorik yang tepat. Kebanyakan interneuron bertipe multipolar (Tortora dkk, 2016).
Interneuron terutama berada di dalam sistem saraf pusat sekitar 99% dan semua neuron termasuk dalam kategori ini. Sistem saraf pusat manusia diperkirakan memiliki lebih dari 100 miliar antarneuron. Neuron-neuron ini memiliki dua peran utama. Pertama, seperti diisyaratkan oleh namanya, neuron ini terletak antara neuron aferen dan eferen dan penting dalam integrasi respons perifer dengan informasi perifer (antar artinya "di antara'). Sebagai contoh, setelah menerima informasi melalui neuron aferen bahwa anda menyentuh suatu benda panas, antarneuron-antarneuron tertentu memberi sinyal kepada neuron eferen yang mensarafi otot tangan dan lengan anda dengan sebuah pesan, "Jauhkan tangan dari benda panas!". Semakin kompleks tindakan yang diperlukan semakin besar jumlah antarneuron yang terletak antara pesan aferen dan respons eferen. Kedua, interkoneksi antara antarneuron itu sendiri berperan dalam fenomena abstrak yang berkaitan dengan "jiwa', misalnya pikiran, emosi, ingatan, kecerdasan, dan motivasi. Aktivitas-aktivitas ini merupakan fungsi sistem saraf yang paling kurang dipahami (Sherwood, 2009).

Gambar 8. Struktur dan lokasi tiga kelas fungsional neuron
(Sumber: Sherwood, 2009)

Beberapa neuron juga memiliki nama yang sesuai dengan histologinya atau bentuk penampilannya. Contohnya seperti sel purkinje di sereblum dan sel piramida di korteks serebral otak.

Gambar 9. Struktur sel purkinje dan sel piramida.
(Sumber: Tortora dkk, 2016)

C.      Penyampaian Informasi oleh Neuron
Pesan melewati sistem saraf simpatik yang terdiri dari arus 2 arah. Pesan eferen bisa memicu perubahan di berbagai bagian tubuh secara simultan. Sebagai contoh, sistem saraf simpatik bisa mempercepat denyut jantung; memperlebar bagian bronchial; mengurangi motilitas (pergerakan) usus besar; menyempitkan pembuluh darah; meningkatkan gerak peristaltik di esofagus; menyebabkan pelebaran pupil, piloerection (merinding), dan perspiration (berkeringat); serta meningkatkan tekanan darah. Pesan aferen membawa sensasi seperti panas, dingin, dan nyeri (Wikibooks Contributors, 2006).
Neuron dirangsang secara elektris. Mereka berkomunikasi satu sama lain dengan 2 tipe sinyal elektris: (1) potensial membran, yang digunakan hanya pada komunikasi jarak pendek, (2) potensial aksi, mengizinkan komunikasi jarak jauh dalam tubuh (Tortora dkk, 2016). Sehingga dapat dipahami bahwa pada dasarnya neuron bekerja dengan cara menghasilkan dan mengantarkan potensial aksi yang merupakan gelombang listrik yang menjalar di neuron. Hal ini berlangsung karena kondisi listrik dari membran neuron tidak stabil yang berarti bahwa perbedaan potensial yang ada di membran neuron dapat mengalami perubahan-perubahan(Santoso, 2009).
Impuls dapat menjalar/menyebar dari tempat awal pembentukannya hingga ke ujung akson, bahkan mungkin menyeberang ke sel lainnya (sel saraf lain, sel otot, atau sel kelenjar). Impuls yang menjalar dari suatu sel saraf ke sel yang lain pasti akan melintasi sinaps. Sinaps adalah tempat pertemuan antara akson dari suatu sel saraf dengan sel saraf lainnya. Sinaps juga dapat terbentuk antara sel saraf dengan sel otot atau kelenjar (Isnaeni, 2006).
Berikut adalah contoh penyampaian informasi oleh neuron yang terjadi pada peristiwa refleks spinal dasar. Refleks spinal dasar adalah refleks yang diintegrasikan oleh medula spinalis; yaitu, semua komponen yang diperlukan untuk menghubungkan masukan aferen ke respons eferen yang terdapat di dalam medula spinalis. Refleks lucut dapat digunakan untuk menggambarkan suatu refleks spinal dasar. Ketika seseorang menyentuh kompor panas (atau menerima rangsangan nyeri lainnya) maka refleks lucut terpicu untuk menarik tangan menjauhi kompor (menarik diri dari rangsangan nyeri). Kulit memiliki berbagai reseptor untuk rasa hangat, dingin, sentuhan ringan, tekanan, dan nyeri. Meskipun semua informasi dikirim ke sistem saraf pusat melalui potensial aksi, namun sistem saraf pusat dapat membedakan antara berbagai rangsangan karena perbedaan reseptor, dengan demikian, perbedaan jalur aferen yang diaktifkan oleh rangsangan yang berbeda. Jika suatu reseptor dirangsang cukup kuat sehingga reseptor tersebut mencapai ambang, maka terbentuk potensial aksi di neuron sensorik aferen. Semakin kuat rangsangan, semakin tinggi frekuensi potensial aksi yang dihasilkan dan dikirim ke SSP Setelah masuk ke medula spinalis, neuron eferen menyebar untuk bersinaps dengan berbagai antarneuron berikut (angka sesuai dengan yang terdapat di Gambar 10) (Sherwood, 2009):

Gambar 10. Refleks lucut
(Sumber: Sherwood, 2009)

1.         Neuron aferen yang tereksitasi merangsang antarneuron eksitatorik yang pada gilirannya merangsang neuron motorik eferen yang menyarafi biseps, otot di lengan yang menyebabkan fleksi (menekuk) sendi siku. Dengan berkontraksi, biseps menarik tangan menjauhi kompor panas.
2.         Neuron aferen juga merangsang antarneuron inhibitorik yang pada gilirannya menghambat neuron eferen yang menyarafi trisep untuk mencegahnya berkontraksi. triseps adalah otot di lengan yang menyebabkan ekstensi (meluruskan) sendi siku. Ketika biseps berkontraksi untuk menekuk siku, maka akan kontra produktif bagi triseps untuk berkontraksi. Karena itu, inhibisi otot-otot yang mengantagonis (melawan) respons yang diinginkan sudah tercakup dalam refleks lucut. Koneksi neuron yang melibatkan stimulasi saraf ke satu otot dan inhibisi saraf secara bersamaan ke otot antagonisnya ini dikenal sebagai persarafan timbalbalik.
3.         Neuron aferen juga merangsang antarneuron lain yang membawa sinyal naik melalui medula spinalis ke otak melalui jalur asendens. Hanya ketika impuls mencapai daerah sensorik korteks barulah yang bersangkutan merasakan nyeri, lokasinya, dan jenis rangsangan. Juga, ketika impuls mencapai otak, informasi dapat disimpan sebagai ingatan, dan yang bersangkutan dapat mulai memikirkan situasi yang dihadapinya - bagaimana hal tersebut terjadi, apayangharus dilakukan mengenai hal tersebut, dan sebagainya. Semua aktivitas di tingkat sadar ini terletak di atas dan setelah refleks dasar.
Jika sebelumnya dijelaskan mengenai refleks lucut, berikut merupakan contoh dari penyampaian informasi hingga pemunculan respons dari tindakan yang dilakukan secara sadar, yaitu memegang pena. Mekanismenya dapat dilihat dalam gambar dan keterangan sebagai berikut.

Gambar 11.Mekanisme terjadinya pergerakan jari dalam menggunakan pena
(Sumber: Tortora dkk, 2016)

1.      Saat kamu menyentuh pena, muncul potensial membran di reseptor sensoris yang ada di kulit jari.
2.      Potensial membran tersebut memicu akson dari neuron sensori untuk membentuk potensial aksi saraf, yang kemudian bergerak di sepanjang akson menuju ke sistem saraf pusat hingga akhirnya menyebabkan pelepasan neurotransmitter ke sebuah sinaps interneuron.
3.     Neurotransmitter mendorong interneuron untuk membentuk sebuah potensial membran pada dendrit dan badan sel.
4.     Sebagai respons dari potensial membran, akson dari interneuron membentuk sebuah potensial aksi. Potensial aksi dari neuron kemudian bergerak di sepanjang akson, yang mana menghasilkan pelepasan neurotransmitter ke sinaps selanjutnya dari interneuron lain.
5.         Proses pelepasan neurotransmitter di sinaps diikuti dengan pembentukan potensial membran dan potensial aksi saraf yang terjadi terus-menerus hingga interneuron yang ada di bagian tertinggi otak (seperti talamus dan korteks serebral) teraktivasi. Ketika interneuron pada korteks serebral teraktivasi, muncul tanggapan dan kamu bisa merasakan permukaan halus dari pena yang menyentuh jari-jarimu
Jika kamu ingin menggunakan pena tersebut untuk menulis, sistem saraf akan merespons dengan cara sebagai berikut.
6.      Sebuah stimulus dalam otak menyebabkan potensial membran terbentuk di dendrit dan badan sel sebuah upper motor neuron, tipe dari neuron motorik yang bersinapsis dengan sebuah lower motor neuron (neuron yang berada lebih jauh di dalam sistem saraf pusat dan bertugas mengkontraksikan otot rangka). Potensial membran tersebut kemudian menyebabkan sebuah potensial aksi terjadi di akson dari upper motor neuron, diikuti dengan pelepasan neurotransmitter.
7.      Neurotransmitter menghasilkan sebuah potensial membran di lower motor neuron, tipe dari neuron motorik yang secara langsung terhubung ke serabut otot rangka. Potensial membran memicu pembentukan potensial aksi saraf dan kemudian pelepasan neurotransmitter ke persimpangan antara neuromuskular dan serabut otot rangka yang mengendalikan pergerakan dari jari
8.   Neurotransmitter mendorong serabut otot yang mengkontrol pergerakan jari untuk membentuk potensial aksi otot. Potensial aksi otot tersebut menyebabkan serabut otot berkontraksi, sehingga membuat kamu mampu menulis dengan pena.


Untuk melihat daftar pustaka/sumber referensi dan materi Fisiologi Hewan lainnya, silahkan klik link di bawah ini:

No comments:

Post a Comment