Beranda

Wednesday, July 25, 2018

Fisiologi Hewan: HOMEOSTASIS


Homeostasis (homeo = kesamaan, -stasis = kedudukan yang tetap) adalah kondisi keseimbangan sistem yang ada di dalam tubuh, disebabkan oleh adanya interaksi yang konstan dari banyak proses regulasi dalam tubuh. Homeostasis adalah kondisi dinamis, sebagai respons dari kondisi yang berubah (Tortora dkk, 2016).
A.      Konsep Homeostasis
Secara umum, kondisi lingkungan eksternal sangat tidak konstan. Akan ada perubahan temperatur, ketersediaan air, konsentrasi gas, pH dan sebagainya. Perubahan- perubahan tersebut mungkin akan terjadi pada periode harian atau musiman, dan akan memberikan tantangan bagi fungsi normal hewan. Jika lingkungan eksternal berubah juga akan memberikan efek terhadap cairan tubuh hewan yang menjadi penyusun lingkungan internal mengalami perubahan. Jika terjadi perubahan yang besar maka akan berdampak kepada keseluruhan sistem fisiologis hewan sehingga sangat berisiko bagi kelangsungan hidupnya. Oleh sebab itu, hewan semaksimal mungkin harus mempertahankan kondisi lingkungan internal tersebut agar tidak berubah kendati kondisi lingkungan berubah. Kebutuhan absolut hewan untuk mempertahankan kondisi internalnya dalam keadaan konstan dikenal sebagai homeostasis (Santoso, 2009).
Aspek terpenting dari homeostasis adalah memelihara dan menjaga volume serta komposisi dari cairan tubuh dan air yang mengandung molekul kimia di dalam sel. Cairan di dalam sel disebut cairan intraseluler. Cairan di luar sel tubuh disebut cairan ekstraseluler. Cairan ekstraseluler yang mengisi celah sempit di antara sel dan jaringan dikenal sebagai cairan interstitial. Penyebutan cairan ekstraseluler berbeda-beda tergantung pada keberadaannya di dalam tubuh, seperti cairan ekstraseluler di dalam pembuluh darah yang disebut plasma darah, di dalam pembuluh limfa disebut cairan getah bening, di dalam sendi disebut cairan synovial, dan di dalam mata disebut aqueous humour dan viterous body (Tortora dkk, 2016).
Konsep homeostasis pertama kali muncul di bidang fisiologi di Francis abad ke- 19. Seorang ahli fisiologi Perancis bernama Claude Bernard yang pertama kali mendeskripsikan dari hasil penelitiannya tentang betapa pentingnya stabilitas lingkungan internal hewan. Dia mengistilahkan lingkungan internal dengan milieu interieur. Lingkungan internal ini telah berkembang sebagaimana hewan mengalami perkembangannya, dan dengan itu terdapat berbagai organ fisiologis penting yang akan mempertahankan kondisinya agar tetap konstan. Homeostasis adalah tema sentral dalam fisiologi. Terdapat sejumlah contoh yang sangat banyak dari homeostasis. Ketika hewan menjadi semakin kompleks dan terspesialisasi sepanjang proses evolusinya, maka homeostasis juga menjadi semakin penting bagi fisiologis tubuh. Sebagian hewan juga tidak mempertahankan kondisi lingkungan internalnya untuk menjadi berbeda dengan lingkungan luar sehingga perubahan apapun di luar akan tercermin dari perubahan di dalam lingkungan internal. Kelompok ini disebut konformer. Akan tetapi, terdapat batasan-batasan terhadap derajat perubahan yang terjadi yang dapat ditolerir oleh hewan, jika melewati batas toleransi akan menyebabkan kematian atau setidaknya kerusakan yang signifikan. Oleh sebab itulah, sebagian besar hewan maju justru mempertahankan kondisi internalnya untuk berbeda terhadap kondisi eksternal (yang disebut kelompok regulator). Dalam kondisi ini, lingkungan internal diregulasi melalui mekanisme-mekanisme kompleks yang tercakup dalam proses homeostasis sehingga kondisi yang ada tetap berbeda dan perbedaan itu relatif konstan (Santoso, 2009).
Gambar 1. Contoh dari mekanisme konformer (a) yang berbeda dengan mekanisme regulasi (b) terhadap variabel suhu internal sehubungan dengan perubahan suhu eksternal
(Sumber: Santoso, 2009)

Cairan yang mengelilingi sel-sel hewan dalam berbagai hal memiliki komposisi yang cukup berbeda dengan lingkungan eksternal yang berada di sekitar tubuh hewan. Misalnya hewan terrestrial, memiliki cairan tubuh yang dikelilingi oleh lingkungan eksternal berupa udara, atau hewan akuatis yang dikelilingi oleh lingkungan eksternal berupa air. Hal yang harus dilakukan oleh hewan adalah untuk menjaga cairan tubuhnya dalam kondisi relatif konstan seperti konsentrasi ion-ionnya, gas terlarut, level nutrien dan lain-lainnya (Santoso. 2009).

B.       Sistem Kontrol Homeostasis
Sistem kontrol homeostasis adalah suatu jalinan komponen-komponen tubuh yang saling berhubungan secara fungsional dan bekerja untuk mempertahankan suatu faktor dalam lingkungan internal agar relatif konstan di sekitar suatu tingkat optimal. Untuk mempertahankan homeostasis, sistem kontrol harus mampu: (1) mendeteksi penyimpangan dari nilai normal faktor internal yang perlu dijaga dalam batas-batas yang sempit; (2) mengintegrasikan informasi ini dengan informasi lain yang relevan; dan (3) melakukan penyesuaian yang tepat dalam aktivitas bagian-bagian tubuh yang bertanggung jawab memulihkan faktor tersebut ke nilai yang diinginkan (Sherwood, 2009).
1.         Sistem kontrol homeostasis umpan balik (feedback)
Sistem feedback/feedback loop adalah siklus dari kejadian ketika status kondisi tubuh dimonitor, dievaluasi, diubah, dimonitor kembali, dan begitu seterusnya. Berbagai variabel yang dimonitor, seperti suhu tubuh, tekanan darah, atau kadar gula darah, disebut sebagai “controlled condition” (kondisi yang dikontrol). Berbagai gangguan yang mengubah “controlled condition” disebut sebagai stimulus. Sistem feedback memiliki 3 komponen dasar, yaitu reseptor, pusat kontrol/integrasi, dan efektor (Tortora dkk, 2016).
Antara reseptor dan pusat integrasi dihubungkan oleh saraf sensorik, sedangkan antar pusat integrasi dan efektor dihubungkan oleh saraf motorik. Reseptor berperan sebagai pemantau perubahan yang terjadi di lingkungan, baik lingkungan luar maupun lingkungan dalam tubuh hewan. Dalam sistem hidup, reseptor berfungsi sebagai transduser biologis, yaitu komponen struktural dalam tubuh hewan yang memiliki kemampuan untuk mengubah suatu bentuk energi yang dideteksi dari lingkungan (misalnya energi listrik dan energi kimia) melalui serabut saraf aferen menuju pusat integrasi (pusat pengatur/kontrol) (Isnaeni, 2006).
Pusat integrasi pada hewan biasanya berupa otak atau korda spinalis. Peran pusat integrasi ialah membandingkan informasi yang diterimanya dengan keadaan yang seharusnya (keadaan yang diharapkan). Jika informasi yang diterima tidak sama dengan keadaan yang seharusnya, contohnya ketika suhu tubuh yang lebih tinggi atau lebih rendah dari suhu ideal 37oC, hipotalamus sebagai pusat integrasi pengendalian suhu tubuh dengan sistem umpan balik negatif akan memerintahkan efektor untuk memberikan tanggapan yang dapat menurunkan atau menaikkan suhu tubuh, misalnya dengan cara berkeringat, melebarkan pembuluh darah di kulit, dan melakukan upaya lainnya. Efektor sendiri merupakan organ dalam tubuh hewan yang berfungsi sebagai organ penghasil tanggapan biologis, yang dapat berupa sel otot atau kelenjar, dan bekerja atas perintah dari pusat integrasi (Isnaeni, 2006).
Gambar 2. Komponen dasar, susunan, dan mekanisme dari sistem umpan balik.
(Sumber: dimodifikasi dari Tortora dkk, 2016).
Umpan balik terbagi atas dua yaitu negatif dan positif. Umpan balik negatif dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan sebuah variabel yang dilawan oleh suatu respons yang cenderung berkebalikan dengan perubahan tersebut. Sebagai contoh, pada burung dan mamalia yang harus menjaga suhu tubuhnya, peningkatan suhu tubuh akan menghasilkan respons-respons spesifik yang akan mengembalikan suhu tubuh ke keadaan normal. Jadi, umpan balik negatif berperan dalam menjaga stabilitas fisiologis tubuh (Santoso, 2009).
Gambar 3. Sistem umpan balik negatif pada proses penurunan tekanan darah.
(Sumber: dimodifikasi dari Tortora dkk, 2016).
Hal ini kontras dengan sistem umpan balik positif dimana perubahan awal pada suatu variabel akan menghasilkan perubahan yang lebih lanjut pada arah yang sama. Secara garis besar, sistem umpan balik positif hanya memiliki peran sangat kecil dalam menjaga homeostasis. Salah satu contohnya adalah koagulasi atau pembekuan darah. Proses koagulasi bekerja berdasarkan mekanisme umpan balik positif dan dapat dianggap sebagai suatu proses yang terlibat dalam menjaga volume sirkulasi darah agar tetap konstan (Santoso, 2009). Selain terlibat dalam pembekuan darah, sistem umpan balik positif juga terlibat dalam fungsi sel saraf (Isnaeni, 2006).
Gambar 4.Sistem umpan balik positif pada kelahiran bayi.
(Sumber: dimodifikasi dari Tortora dkk, 2016).
2.         Sistem kontrol homeostasis umpan ke depan (feed forward)
Kendati sistem umpan balik negatif sangat penting bagi penjaga homeostasis tubuh, ada metode fisiologis lainnya dimana kontrol lingkungan internal juga dilakukan sedemikian rupa. Mekanisme tersebut adalah umpan ke depan (feed forward). Feed forward merupakan aktivitas antisipatori, berkaitan dengan perilaku hewan yang dimaksudkan untuk memperkecil (meminimalkan) kerusakan/gangguan pada sistem hidup, sebelum terjadi kerusakan yang lebih parah. Contohnya adalah ketika peristiwa makan dan minum pada saat bersamaan. Memasukkan makanan ke dalam tubuh akan meningkatkan osmolalitas isi usus, dan hal ini dapat mendorong pelepasan air dari jaringan tubuh ke lumen usus untuk mempertahankan keseimbangan osmotik. Oleh karena itu, makan tanpa diikuti minum berpotensi menyebabkan dehidrasi sehingga homeostasis osmotik tubuh akan terganggu. Untuk memperkecil gangguan tersebut, beberapa hewan melakukan makan dan minum pada saat yang bersamaan (Isnaeni, 2006). Ada juga perilaku lainnya yang berkontribusi terhadap homeostasis pada hewan, misalnya hewan dapat belajar untuk menghindari bahan makanan muntah yang mengganggu homeostasis jika terjadi (Santoso, 2009).
C.      Faktor yang Diatur Secara Homeostasis
Banyak faktor dalam lingkungan internal yang harus dipertahankan secara homeostasis. Faktor-faktor tersebut mencakup (Sherwood, 2009):
1.         Konsentrasi molekul-molekul nutrien
Sel-sel memerlukan pasokan molekul nutrien secara terus-menerus untuk menghasilkan energi. Energi, sebaliknya, diperlukan untuk menunjang berbagai aktivitas sel baik yang bersifat khusus maupun yang untuk mempertahankan kehidupan.
2.         Konsentrasi O2 dan CO2
Sel-sel memerlukan O2 untuk melakukan reaksi kimia pembentuk energi. CO, yang dibentuk selama reaksi-reaksi ini harus dikeluarkan sehingga tidak terbentuk asam yang meningkatkan keasaman lingkungan internal.
2.         Konsentrasi zat sisa
Sebagian reaksi kimia menghasilkan produk-produk akhir yang menimbulkan efek toksik pada sel tubuh jika dibiarkan berakumulasi.
3.         pH
Perubahan pada pH (jumlah relatif asam) berpengaruh buruk pada fungsi sel saraf dan merusak aktivitas enzim semua sel.
4.         Konsentrasi garam, air dan elektrolit lain.
Karena konsentrasi relatif garam (NaCl) dan air di cairan ekstra sel mempengaruhi seberapa banyak air yang masuk atau keluar sel, maka konsentrasi keduanya diatur secara cermat untuk mempertahankan volume sel. Sel tidak berfungsi normal jika membengkak atau menciut. Elektrolit-elektrolit lain berperan dalam berbagai fungsi vital lain. Sebagai contoh, denyut jantung yang teratur bergantung pada konsentrasi kalium (K+) yang relatif konstan di cairan ekstra sel.
5.         Volume dan tekanan
Komponen lingkungan internal yang beredar, yaitu plasma, harus dipertahankan pada volume dan tekanan darah yang adekuat untuk menjamin distribusi penghubung antara lingkungan eksternal dan sel yang penting ini ke seluruh tubuh.
6.         Suhu
Sel-sel tubuh berfungsi optimal dalam kisaran suhu yang sempit. Jika sel terlalu dingin maka fungsi-fungsi sel akan terlalu melambat; dan yang lebih buruk lagi, jika sel terlalu panas maka protein-protein struktural dan enzimatik akan terganggu atau rusak.

Untuk melihat daftar pustaka/sumber referensi dan materi Fisiologi Hewan lainnya, silahkan klik link di bawah ini: