Beranda

Thursday, December 31, 2020

Laporan Praktikum Morfologi Tumbuhan - Rumus Bunga dan Diagram Bunga (Flos)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Suatu bunga yang lengkap mempunyai daun kelopak, daun mahkota, benang sari, putik, dan daun buah. Bunga terdiri atas bagian yang fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian yang steril yaitu daun kelopak dan daun mahkota. Bunga merupakan sebagian dari cara reproduksi seksual yang menghasilkan biji, dan akhirnya dari bijilah diperoleh tumbuhan baru (Tjitrosomo, 1983).
Bagian tumbuhan yang sering dideskripsikan adalah bunga. Dalam mendeskripsikan bunga, selain dengan kata-kata, dapat ditambahkan dengan gambar-gambar yang melukiskan bagian-bagian bunga atau berupa diagram bunga. Kecuali dengan diagram, susunan bunga dapat dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri atas lambang-lambang, huruf-huruf dan angka-angka yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga beserta bagian-bagiannya (Tjitrosoepomo, 1995).
Untuk memudahkan mengamati bagian-bagian bunga yang terdiri dari tangkai bunga (pedicellus), dasar bunga (receptaculum),  kelopak  (calyx),  mahkota  (corolla),   benang sari (stamen), dan putik (pistillum) secara singkat dapat ditulis dengan menggunakan rumus bunga atau dengan diagram bunga untuk memudahkan kita dalam mengidentifikasi suatu bunga.
Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari semua bagian yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik, juga bagian-bagian lain yang masih ada selain keempat bagian utama tersebut (Tjitrosoepomo, 1995).
Berdasarkan uraian diatas, maka dilaksanakanlah praktikum tentang Rumus dan Diagram Bunga, agar kita dapat mengetahui secara jelas bagian-bagian bunga sehingga dapat menentukan  rumus dan diagram masing-masing bunga secara tepat dan jelas.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan praktikum tentang Rumus dan Diagram Bunga adalah untuk membuat rumus bunga dari diagram bunga.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Diagram Bunga
Diagram bunga adalah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang. Jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang  melintang daun kelopak, mahkota bunga, benang sari, dan putik, juga bagian-bagian bunga lainnya jika masih ada.  Dari diagram bunga itu selanjutnya dapat diketahui juga jumlah masing-masing bagian bunga tadi bagaimana letak bunga dan susunannya antara satu dengan yang lain (Tjitrosoepomo, 1995).
Jika kita hendak membuat diagram bunga, kita harus memperhatikan hal-hal berikut (Tjitrosoepomo, 1995):
a.       Letak bunga pada tumbuhan. Dalam hubungannya dengan perencanaan suatu diagram, kita hanya membedakan dua macam letak bunga:
1.      bunga pada ujung batang atau cabang (flos terminalis),
2.      bunga yang terdapat dalam ketiak daun (flos terminalis).
b.      Bagian-bagian bunga yang akan kita buat diagram tadi tersusun dalam berapa lingkaran.
Pada lingkaran-lingkarannya sendiri berturut-turut dari luar ke dalam digambar daun-daun kelopak, daun-daun tajuk, benang sari, dan yang terakhir penampang melintang bakal buah. Dengan demikian kita dapat membedakan dua macam diagram bunga (Tjitrosoepomo, 1995):
a.         diagram bunga empirik, yaitu diagram bunga yang hanya membuat bagian-bagian bunga yang benar-benar ada,
b.         diagram teoritik, yaitu diagram bunga yang selain menggambarkan bagian-bagian bunga yang sesungguhnya, dan juga memuat bagian-bagian yang sudah tidak ada lagi.

2.2. Rumus Bunga
Rumus bunga merupakan gambaran tentang keadaan suatu bunga. Rumus bunga menunjukkan keadaan kelopak bunga, mahkota, organ-organ reproduktifnya, dan simetrinya (Rosanti, 2013).
Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga yang bertalian dengan simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan nama bagian-bagian bunga. Disamping itu masih terdapat lambang-lambang lain lagi yang memperlihatkan hubungan bagian-bagian bunga satu sama lain (Tjitrosoepomo, 1985).
Menurut Rosanti (2013), secara berturut-turut, pembuatan rumus bunga adalah sebagai berikut:
1.      Kelamin Bunga
Kelamin bunga tersebut yang ditunjukkan oleh organ reproduktifnya. Jika bunga tersebut memiliki putik sekaligus benang sari maka bunga tersebut termasuk bunga banci (hemaphrodite) dilambangkan dengan ♀, jika bunga tersebut hanya memiliki putik maka bunga tersebut termasuk bunga betina, dilambangkan dengan ♀.  jika bunga hanya memiliki benang sari saja maka disebut bunga jantan, dilambangkan dengan ♂ (Rosanti, 2013).
2.      Menentukan Simetri Bunga
Simetri adalah sifat suatu benda atau badan yang juga biasa disebut untuk bagian-bagian tubuh tumbuhan (batang, daun, maupun bunga), jika benda tadi oleh sebuah bidang dapat dibagi menjadi dua bagian, sedemikian rupa, sehingga kedua bagian itu saling menutupi. Dapat pula dikatakan bidang pemisah tadi merupakan sebuah cermin datar dan bagian yang satu merupakan bayangan cermin bagian yang lainnya. Bidang yang dapat dibuat untuk memisahkan suatu benda dalam dua bagian yang satu sama lain merupakan bayangannya dalam cermin datar tadi, dinamakan bidang simetri (Tjitrosoepomo, 1983).
Macam-macam simetri pada bunga yaitu: (Tjitrosomo, 1983)
a.    Asimetris atau tidak simetris, jika pada bunga tidak dapat dibuat satu bidang simetri dengan jalan apapun juga, misalnya bunga tasbih (Canna hybrida Hort).
b.    Setangkup tunggal (monosimetris atau zygomorphus), jika pada bunga hanya dapat di buat satu bidang simetri saja yang membagi bunga tadi menjadi dua bagian yang setangkup. Sifat ini biasanya ditunjukkan dengan lambang ↑ (anak panah).
c.    Setangkup menurut dua bidang (bilateral simetris atau disimetris), dapat pula dikatakan setangkup ganda, yaitu bunga yang dapat dijadikan dua bagian yang setangkup menurut dua bidang simetri yang tegak lurus satu sama lain, misalnya bunga lobak (Raphanus sativus L).
d.   Beraturan atau bersimetri banyak (polysimetris, regularis, atau actinomorphus), yaitu jika dapat dibuat banyak bidang simetri untuk membagi bunga itu dalam dua bagiannya yang setangkup, misalnya pada bunga lili gereja (Lilium longiflorum Thunb) bunga yang beraturan seringkali ditunjukkan dengan lambang * (bintang).
3.      Menghitung Jumlah Kelopak Bunga.
Kelopak bunga dilambangkan dengan huruf “K” dari kata calyx atau huruf “S” dari kata sepalae. Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun warnanya, kita lalu mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaiut huruf P singkatan kata perigonium (tenda bunga). Sebagai contoh jika jumlah daun kelopak berjumlah 3 saling berdekatan maka ditulis “K (3)”, jika daun kelopak berjumlah 3  tidak saling berdekatan maka ditulis “K 3” (Rosanti, 2013).
4.      Menghitung Jumlah Daun-Daun Mahkota
Mahkota dinyatakan dengan huruf C singkatan kata corolla atau huruf “P” dari kata petalae. Sebagai contoh, jika daun mahkota berjumlah 5 saling berdekatan maka ditulis “C (5)” atau “P (5)”. Jika jumlah daun mahkota berjumlah 5 tidak saling berdekatan maka ditulis “C 5” atau “P 5” (Rosanti, 2013).
Jika mahkota bunga tersusun dalam 2 sampai 3 lingkaran, maka harus dihitung jumlah mahkota dalam lingkaran terluar dahulu baru kedalam. Jika jumlah daun mahkota banyak maka dianggap memiliki jumlah yang tidak terbatas sehingga ditulis “∞”(Rosanti, 2013).
5.      Menghitung Jumlah Benang Sari
Benang-benang sari yang dinyatakan dengan huruf A singkatan kata androecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga). Setiap  benang sari memiliki kepala sari (anthera) yang mengandung banyak serbuk sari. Kepala sari ini terkumpul menjadi satu dalam satu tangkai sari. Jumlah kepala sari inilah yang menjadi penentu jumlah A (Rosanti, 2013).
6.      Menghitung Jumlah Putik
Putik yang dinyatakan dengan huruf G singkatan kata gymnaecium (istilah untuk alat betina pada bunga) (Tjitrosoepomo, 1995). Setiap putik memiliki kepala putik (stigma) yang mengandung banyak daun buah, kepala putik tersusun menjadi satu dalam tangkai putik, jumlah kepala putik inilah yang menjadi penentu jumlah G (Rosanti, 2013).
Dalam perhitungan putik, harus diperhitungkan pula kedudukan bakal buahnya. Jika bakal buah menumpang (superus), jika bakal buah duduk diatas dasar bunga, maka simbol huruf G harus digaris bawah. Jika kedudukan bakal buahnya setengah tenggelam (hemi inferus) dan pada dasar bunga yang cekung, maka dibawah simbol hutuf G tidak perlu diberi simbol tambahan. Jika kedudukan bakal buah tenggelam (inferus) maka diatas simbol huruf G diberi tanda garis (Rosanti, 2013).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu Dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Desember 2013 pada pukul 15.00 WIB hingga selesai. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang.

3.2. Alat Dan Bahan
3.2.1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan ialah baki/nampan, silet/pisau cutter, pensil warna, mistar, dan kertas A4.
3.2.2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), bunga tasbih (Canna sp), ranting alamanda (Allamanda cathartica L), bunga kertas (Bougenvilla spectabilis), bunga teratai (Nymphaea lotus L), bunga anggrek kalajengking (Arachis flos-aeris), dan bunga mawar (Rosa sp).

3.3. Prosedur kerja
1. Mempersiapkan semua alat dan bahan
2. Membuat rumus bunga dan diagram bunga dari bahan-bahan yang tersedia.

 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
RUMUS BUNGA
DIAGRAM BUNGA
1.    Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
♀, K(5), C(5), A~, G(5)

2.    Bunga Alamanda (Allamanda cathartica L.)
♀, K(5), C(5), A~, G1

3.    Anggrek Kalajengking (Arachis flos-aeris)
♀, P5, A0, G1

4.    Teratai (Nymphaea lotus L.)
♀, P~, A~

5.    Bunga Mawar (Rosa sp)
♀, ↑, K5, C5+5+5, A~, G~

6.    Bunga Kertas (Bougenvilia spectabilis)
♀, ↑, K3+(5)+(5)+(5), C(5)+(5)+(5), A(8)+(8)+(8), G3

7.    Bunga Tasbih (Canna sp)
♀, K3+3, {C2+2+1, A1}, G1


4.2. Pembahasan            
4.2.1. Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
Bunga sepatu termasuk bangsa malvales, mempunyai ciri khas yaitu terdapatnya ‘columna’, yaitu bagian bunga yang terdiri dari pelekatan bagian bawah tangkai sarinya membentuk badan yang menyelubungi putik dan bagian pangkalnya berlekatan dengan pangkal daun-daun mahkota, sehingga bila mahkota bunga ditarik keseluruhannya akan terlepas dari bunga bersama-sama dengan benang-benang sari dengan meninggalkan kelopak dan bakal buah saja. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa bunga sepatu memiliki rumus bunga ♀, K(5), C(5), A~, G(5). Artinya bunga sepatu merupakan bunga banci, yaitu pada bunganya terdapat putik dan benang sari, mempunyai 5 buah kelopak utama yang saling berlekatan, 5 buah mahkota bunga yang  juga berlekatan. Benang sarinya sangat banyak dan saling berlekatan, putiknya ada 5 yang saling berlekatan dan menumpang.

4.2.2. Alamanda (Allamanda cathartica L.)
Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada alamanda diketahui bahwa alamanda mempunyai rumus bunga ♀, K(5), C(5), A~, G1.  Artinya bunga alamanda adalah bunga banci, memiliki 5 buah kelopak yang berlekatan, dan memiliki banyak benang sari yang tidak berlekatan satu sama lain, memiliki 5 buah mahkota, pada bunga ini putiknya hanya ada satu dan tenggelam.

4.2.3. Bunga Anggrek Kalajengking (Arachis flos-aeris)
Bunga ini termasuk bunga majemuk berkelamin dua, zygomorf, mempunyai benang sari dan kepala putik yang terletak pada suatu kotak dan pada tenda bunga mempunyai serupa tajuk dan warnanya bermacam-macam. Seperti warna tajuk bunga. Bunganya banyak terdapat pada setiap tangkai dan berbentuk seperti kalajengking. Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa bunga anggrek mempunyai rumus bunga ♀, P5, A0, G1. Artinya bunga ini merupakan bunga banci, memiliki 5 buah daun tenda bunga yang tidak berlekatan, benang sari yang sebenarnya ada namun tidak tampak pada saat pengamatan, dan 1 buah putik yang menumpang.

4.2.4. Bunga Teratai (Nymphaea lotus L.)
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa bunga teratai mempunyai rumus bunga ♀, P~, A~.. Artinya bunga teratai merupakan bunga banci, memiliki benang sari yang sangat banyak/tak terhingga. Tenda bunga berwarna putih. Bentuk tenda bunga yaitu jorong, tidak saling berlekatan satu sama lain, dan terletak berseling. Memiliki banyak benang sari yang terkumpul berbentuk pipih, terletak disebelah dalam tenda bunga.

4.2.5. Mawar (Rosa sp)
Mawar memiliki rumus bunga ♀, ↑, K5, C5+5+5, A~, G~. Artinya mawar merupakan bunga banci yang bersimetri tunggal, memilki 5 buah kelopak yang tidak berlekatan, 15 buah mahkota yang juga tidak berlekatan dan terbagi menjadi 3 lingkar masing-masing 5 mahkota pada setiap lingkar, benang sari yang banyak/tak hingga, serta putik yang juga tak hingga dan menumpang.

4.2.6. Bunga Kertas (Bougenvilia spectabilis)
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa bunga kertas (bougenvile) terletak diujung, namun ada pula yang terletak diketiak daun. Bunga ini daun pemikatnya ditempeli oleh satu bunga tabung untuk setiap satu daun pemikat. Rumus bunganya adalah ♀, ↑, K3+(5)+(5)+(5), C(5)+(5)+(5), A(8)+(8)+(8), G3. Artinya bunga kertas merupakan bunga banci yang bersimetri 1, memiliki 18 buah kelopak yang hanya 3 buah yang tidak saling melekat, memiliki 15 buah mahkota yang saling berlekatan dengan benang sari yang banyak dan 3 buah putik yang tidak berlekatan dan menumpang. Tanaman ini merupakan tumbuhan liana yang kokoh dan menjauhi batang.



4.2.7. Bunga Tasbih (Canna sp)
Bunga tasbih merupakan karangan bunga yang kerap kali bercabang, bunga dalam bulir atau tandan. Tangkai pendek, kelopak daun tidak sama. Kerap kali berwarna serupa mahkota, panjang antara 1-15 cm. Bunga tasbih adalah bunga banci, bunganya tidak simetris, mempunyai daun kelopak yang terpisah sebanyak 6 buah, daun mahkota ada 5 yang juga terpisah. Benang sari ada 1 yang melekat pada mahkota. Rumus bunga tasbih adalah ♀, K3+3, {C2+2+1, A1}, G1.


BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Rumus bunga merupakan gambaran tentang keadaan suatu bunga. Rumus bunga menunjukkan keadaan kelopak bunga, mahkota, organ-organ reproduktifnya, dan simetrinya. Diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melintang. Dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa bunga sepatu, bunga tasbihbunga kertasbunga teratai,  bunga mawar, bunga alamanda, dan bunga anggrek kalajengking merupakan bunga yang berjenis kelamin hermaprodit atau banci.. Sedangkan simetri pada semua sampel bunga tidak memiliki simetri kecuali pada bunga kertas dan bunga mawar yang bersimetri 1. Bagian-bagian bunga kelopak dan mahkota hampir dimiliki oleh semua contoh bunga kecuali pada bunga teratai dan anggrek yang memiliki tenda bunga. Sedangkan contoh bunga yang bakal buahnya tenggelam hanya terdapat pada bunga tasbih.

5.2 Saran
             Pada saat praktikum hendaknya praktikan lebih teliti dan lebih memperhatikan penjelasan tentang rumus dan diagram bunga karena pada praktikum kali ini diperlukan keterampilan dan ketelitian agar rumus dan diagram bunga yang dibuat tepat dan  mendapatkan hasil yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Rosanti, Dewi. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1995. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM Press.

Tjitrosomo, Siti Sutarmi dkk. 1983. Botani Umum 1. Bandung: Angkasa.


No comments:

Post a Comment