Beranda

Wednesday, June 17, 2015

Makalah Histologi - Jaringan Otot




BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Semua mahluk hidup terdiri atas unit yang disebut sel. Jelasnya sel merupakan unit struktural terkecil yang melaksanakan proses yang berkaitan dengan kehidupan, misalnya mampu mengambil nutrisi, tumbuh dan berkembangbiak, bereaksi terhadap rangsangan, dan sebagainya. Awal kehidupan Mamalia bertitik tolak dari embrio berbentuk sel telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa yang disebut zigot. Zigot segera berkembang melalui serangkaian pembelahan pola mitosis sesuai dengan tahap perkembangan embrio yang disebut embriogenesis.
Selanjutnya embrio menumbuhkan kelompok sel khusus yang berbeda satu dengan yang lain. Kelompok sel khusus embrio, dalam proses membentuk jaringan, terlepas satu dari yang lain dengan terbentuknya bahan antar sel. Proses pembentukan jaringan dalam embriologi disebut “histogenesis‟ yang mendasari pembentukan organ-organ tubuh (organogenesis). Jadi jaringan adalah kumpulan dari sel-sel sejenis atau berlainan jenis termasuk matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu. Meskipun sangat komplek tubuh Mamalia hanya tersusun oleh 4 jenis jaringan yaitu jaringan epitel, penyambung/pengikat, otot, dan saraf. Dalam tubuh jaringan ini tidak terdapat dalam satuan-satuan yang tersendiri tetapi saling bersambungan satu dengan yang lain dalam perbandingan yang berbeda-beda menyusun suatu organ dan sistema tubuh.
Jaringan dasar adalah jaringan yang mendasari terbentuknya organ tubuh yang fungsional. Pengertian jaringan dalam hal ini mencakup sel-sel serta bahan antar sel yang dihasilkannya, maka pengetahuan tentang struktur serta aktivitas sel merupakan dasar dari histologi.
Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang dapat membantu antara organ satu dengan organ lainnya, contohnya saja otot. Otot dapat melekat di tulang yang berfungsi untuk bergerak aktif. Selain itu otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf.
Jaringan otot menyusun 40% hingga 50% berat total tubuh manusia dan tersusun atas serabut-serabut otot. 4 ciri jaringan otot antara lain: iritabilitas (peka terhadap rangsang), kontraktil (mampu memendek dan menebal), relaksasi (mampu memanjang, dan elastisitas atau mampu kembali ke bentuk semula setelah kontraksi atau relaksasi. Melalui gerak kontraksinya, otot melakukan 3 fungsi yaitu gerak, mempertahankan bentuk dan produksi panas.

1.2    Rumusan Masalah
1.         Apa yang dimaksud dengan jaringan otot?
2.         Apa sajakah jenis-jenis jaringan otot?
3.         Mengapa otot diperlukan bagi tubuh makhluk hidup yang bergerak?


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Jaringan Otot
Jaringan otot merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja mekanik dengan jalan kontraksi dan relaksasi sel atau serabutnya. (Subowo, 2002). Otot sebagai jaringan dibina atas sel-sel otot yang berfungsi untuk pergerakan suatu alat atau bagian tubuh (Yatim, 1990).
Dengan kemampuan otot dalam berkontraksi, ia mengemban 3 fungsi utama yaitu melaksanakan gerakan, memelihara postur dan memproduksi panas. Gerakan yang di hasilkan oleh otot pada dasarnya ada 2, yaitu gerakan tubuh yang mudah di amati dan gerakan tubuh yang tidak mudah di amati. Gerakan tubuh yang mudah di amati meliputi gerak perpindahan tempat (misalnya berjalan, berlari) dan gerakan bagian tubuh tertentu (misalnya menggelengkan kepala, melambaikan tangan), sedangkan gerakan yang tidak mudah diamati adalah gerakan organ-organ dalam tubuh, misalnya gerak peristaltic alat-alat pencernaan, denyut jantung, mengembang dan menyempitnya pembuluh darah, gerakan pengosongan kantung kencing. Fungsi kedua dari otot adalah menjaga postur tubuh, kontraksi dan relaksasi otot-otot rangka menjaga tubuh dalam posisi tetap tegak pada saat berdiri maupun duduk. Fungsi ketiga adalah menghasilkan panas, kontraksi otot dapat menghasilkan panas untuk memelihara suhu tubuh, contoh pada saat kedinginan, otot menggigil untuk menghasilkan panas (Soewolo, 2003).

2.2  Struktur Otot
Otot dalam tubuh terhimpun dalam sutau sistem: Sistem Pergerakan. Otot sebagian terbesar menyelaputi rangka dan tersusun teratur di bawah kulit. Jika diamati otot pangkal lengan atas orang, tampaklah bahwa otot itu tersusun atas beberapa gumpalan. Gumpalan itu bekerja antagonis (timbal-balik): jika satu gumpalan mengerut, gumpalan lain mengendur. Gumpalan terdiri dari beberapa berkas otot, yang disebut fasciculus. Tiap berkas dibina atas banyak serat otot. Satu serat otot adalah 1 sel otot, yang bentuknya kecil panjang seperti serat tumbuhan (Yatim, 1990)
Setiap jaringan otot disarafi oleh beberapa saraf motor. Setiap serabut saraf motor tunggal akan bercabang-cabang menjadi kurang lebih 100 cabang kecil-kecil. Masing-masing cabang kecil ini akan berakhir pada satu sel otot. Ujung saraf yang melekat pada sel otot ini. Ujung saraf yang melekat pada sel otot ini dikenal dengan nama motor end plate atau myoneural junction. Jadi satu serabut saraf motor akan mensarafi kurang lebih 100 sel otot. Satu serabut saraf motor tunggal, bersama-sama dengan sel-sel otot yang disarafi disebut unit motor (Soewolo, 2003).
Gambar 1: Bagian-bagian otot (otot pada rangka) (Yatim, 1990).
Serat otot memiliki komponen seperti sel pada umumnya: plasmalemma, inti, sitoplasma, dan organel. Plasmalemma disebut sarkolemma, sitoplasma disebut sarkoplasma. Organelnya yang penting ialah retikulum endoplasma, mitokondria, dan serabut intraseluler. Retikulum endoplasma disebut retikulum sarkoplasma. Retikulum sarkoplasma bercabang halus dan bersusun membentuk jalinan yang teratur sekeliling serabut intraseluler. Mitokondria, sesuai dengan fungsinya sebagai pembangkit energi, banyak sekali terkandung dalam serat otot. Serabut intraseluler otot disebut miofibril. Miofibril puluhan hingga ratusan banyaknya dalam 1 serat otot. Setiap miofibril dibina atas puluhan mikrofilamen. Mikrofilamen otot ialah aktin dan miosin, yang bersusun berjejer dan berdempet (Yatim, 1990).

2.3   Jenis Otot
Pada Mammalia ada 3 macam otot, yaitu otot polos, otot lurik, serta otot jantung (Yatim, 1990).
2.3.1 Otot Polos
Sel otot polos bila dilihat di bawah mikroskop cahaya tidak menunjukkan adanya garis-garis melintang. Otot polos pada Vertebrata termasuk manusia dapat dijumpai pada dinding dan organ-organ dalam dan pembuluh darah: saluran pencernaan makanan, uterus, kandung kencing, ureter, arteri, arteriol, dan sebagainya. Di samping itu otot polos dapat dijumpai pada iris mata dan otot penggerak rambut (Soewolo, 2003).
Gambar 2: Penampang otot polos (Ambardini, 2012).
Jaringan otot polos merupakan otot yang terletak pada saluran alat-alat di dalam tubuh manusia seperti manusia seperti yang terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dinding pembuluh darah, dinding rahim, saluran pernapasan, dan saluran kelamin. Otot polos dapat disebut juga sebagai otot tak sadar karena cara bekerjanya di luar kesadaran manusia, tanpa harus diperintah otak (Ambardini, 2012).
Cara kerja otot dipengaruhi oleh saraf autonom, yaitu saraf simpatetik dan saraf parasimpatetik. Saraf simpatetik merupakan saraf yang berujung di pangkal sumsum tulang belakang (medulla spinalis) yang terdapat di daerah dada dan pinggang. Saraf tersebut berfungsi sebagai pemacu yang dapat membuat kerja organ-organ tubuh menjadi cepat (Ambardini, 2012).
Adapun saraf parasimpatetik merupakan saraf yang berujung I pangkal sumsum lanjutan (medulla oblongata). Saraf ini berfungsi untuk membuat kerja organ-organ tubuh menjadi lambat (Ambardini, 2012).
Pada bagian permukaan otot polos memiliki serabut-serabut (fibril) yang bersifat sama sehingga apabila kita amati melalui mikroskop bentuknya akan terlihat polos dan tidak memiliki garis seperti otot lain apabila otot polos terkena rangsangan reaksinya akan menjadi lambat. Ada pun ciri-ciri otot polos adalah (Ambardini, 2012):
a.         Bentuk bergelendong dengan kedua ujungnya meruncing.
b.        Mempunyai satu inti sel di tengahnya.
c.         Bekerja di luar kesadaran, gerakan lambat, ritmis dan tidak mudah lelah.
Otot polos memiliki bagian-bagian sebagai berikut (Genneser, 1994):
1.        Membran Plasma
Membran plasma pada otot sering disebut sarkolemma (sarcolemma). Dengan mikroskop cahaya kurang jelas, tetapi dengan mikroskop elektron tampak sebagai selaput ganda (double membrane), masing-masing:
a.    Selaput luar, tebalnya berkisar antara 25-30 Angstrom. Ruang intermedier, kira-kira 25 Angstrom
b.    Selaput dalam, tebalnya 25-30 Angstrom.
Pada daerah hubungan posisi antara otot polos, selaput luar tampak menyatu. Hubungan ini dianggap lebih serasi dari pada hubungan antar sel dengan desmosoma. Hubungan ini berperanan memperlancar transmisi impuls untuk kontraksi dari satu otot ke otot yang lainnya. Pendapat lain mengatakan bahwa tenaga yang terjadi pada waktu kontaksi dapat dipindahkan ke lain alat tubuh melalui serabut kolagen atau elastis.
2.        Sitoplasma
Sering disebut sarkoplasma (sarcoplasma). Sarkoplasma bersifat eosinofilik, mengandung :
a.    Organoid, antara lain: mitokondria yang mengitari inti, endoplasma retikulum, apparatus golgi, miofibril, sentriol.
b.    Paraplasma, seperti glikogen, lipofusin.
Yang menarik perhatian adalah myofibril karena peranannya dalam kontraksi. Miofibril pada otot polos sangat halus, dengan pewarnaan H.E. sulit dilihat. Dengan mikroskop elektron tampak miofilamen miosin berdiameter 5 mµ, dan aktin 3 mµ. Sarkoplasma di dekat inti bebas dari filament. Filamen tersebut berakhir di daerah pekat sarkolemma. Filamen aktin dan miosin juga terdapat pada pada otot polos, berkontraksi dengan adanya adenosine trifosfat. Susunan filament aktin dan miosin pada otot polos belum jelas, berbeda dengan otot skelet.
3.        Inti
Berbentuk lonjong memanjang dengan ujung tumpul, bergelombang pada saat terjadi kontraksi.

2.3.2   Otot Lurik (Otot Rangka)
Gambar 3: Penampang otot serat daging (Ambardini, 2012).
Otot rangka tersusun atas sel-sel panjang tidak bercabang, disebut serabut otot (muscle fiber). Serabut-serabut ini merupakan sel-sel berinti banyak (multiseluler) yang terletak pada bagian pinggir (perifer) sel. Sel-sel otot terbentuk sejak perkembangan embrionik melalui fusi dari banyak sel-sel kecil yang membentuk sinsitium. Apabila dilihat dengan mikroskp cahaya, serabut otot Nampak bergaris-garis melintang (Soewolo, 2003).
Seperti halnya sel saraf, sel otot mampu merespon terhadap rangsangan. Bila membrane sel otot dikenai neurotransmitter yang di hasilkan oleh ujung saraf motor yang mensarafinya, maka pada membrane sel otot tadi akan timbul suatu impuls bioelektrik. Impuls ini akan merambat sepanjang membrane serabut otot, seperti merambatnya impuls pada serabut saraf yang tidak bermielin (Soewolo, 2003).
Setiap serabut otot rangka dibungkus oleh lapisan jaringan ikat lembut yang di sebut endomisium. Beberapa serabut tunggal akan bergabung menjadi satu berkas yang disebut fasikulus. Fasikulus ini dibungkus oleh jaringan ikat yang disebut perimisium. Seluruh fasikulus tersebut kemudian di bungkus bersama-sama oleh epimisium (Soewolo, 2003).

Gambar 4: Garis melintang otot lurik.
Pada kebanyakan otot, epimisium bersatu pada kedua ujung otot dan membentuk tendon yang biasanya melekat pada suatu tulang. Karena tendon bersambung dengan episium, dan karena perimisium dan endomisium melekat padanya, maka kontraksi ottot dapat menimbulkan suatu tarikan yang kuat pada titik lekatnya (Soewolo, 2003).
1.        Sarkolemma
Pada pengamatan dengan mokroskop cahaya tampak sebagai selaput tipis dan tembus cahaya (transparan), tetapi dengan mikroskop elektron tampak adanya selaput ganda (double membrane), yakni selaput luar, setebal 40 Angstrom, ruang antara setebal 20 Angstrom, dan selaput dalam setebal 40 Angstrom (Genneser, 1994).
Selaput luar mirip membran basal epitel yang dibalut serabut retikuler. Selaput dalam (plasmalemma) terdiri dari dua lapis protein yang ditengahnya diisi lemak (lipid). Secara umum sarkolemma bersifat transparan, kenyal dan resisten terhadap asam dan alkali. Serabut-serabut otot kerangka yang bergabung membentuk berkas serabut otot primer disebut fasikulus yang dibalut oleh jaringan ikat kolagen pekat (endomisium). Ada 5 sel utama yang dijumpai dalam fasikulus yaitu: serabut otot, sel endotel, perisit, fibroblast dan miosatelit (Genneser, 1994).
2.        Sarkoplasma (sitoplasma)
Sarkoplasma mengandung (Genneser, 1994):
a.         Organoida, antara lain:
1)        Mitokondria (sarcosomes)
Mitokondria terdapat berbatasan dengan sarkolemma dan dekat inti di antara miofibril.
2)        Ribosom
Ribosom pada otot kerangka terdapat bebas di matriks.
3)        Apparatus golgi
4)        Miofibril
Pada satu serabut otot kerangka terdapat ribuan miofibril, sedangkan tiap miofibril memiliki ratusan miofilamen yang bersifat submikroskopis. Miofilamen terdiri dari 2 macam yaitu:


1.     Filamen Miosin
Sering disebut filament kasar (coarse filaments), berdiameter 100 Angstrom dan panjangnya 1,5 µ. Filamen ini membentuk daerah A atau cakram A. Filamen ini tersusun pararel dan berenang bebas dalam matriks. Bagian tengah agak tebal dari bagian tepi. Fungsi dari miosin adalah sebagai enzim katalisator yang berperanan memecah ATP menjadi ADP+energi, dan energi ini digunakan untuk kontraksi.
Gambar 4: Sruktur Miosin (Soewolo, 2003).
2.     Filamen Aktin
Filamen tipis terutama tersusun atas aktin, tropomiosin, dan troponin. Setiap filamen tipis terdiri dari dua filament aktin yang saling terpilin, dalam suatu bentukan spiral ganda. Tropomiosin pada suatu filament tipis merupakan suatu benang panjang yang tersusun atas 2 rantai polipeptida yang membentuk suatu spiral . Fungsi tropomiosin adalah menutup tempat perlekatan miosin pad molekul aktin pada saat otot istirahat. Lalu yang terakhir adalah troponin, suatu kompleks troponin melekat pada satu tempat khusus pada tropomiosin.

Gambar 5: Struktur Aktin (Soewolo, 2003).
Satuan miofibril yang terkecil disebut sarkomer. Sebuah sarkomer adalah unit fungsional dasar dari otot lurik, atau dengan kata lain, sarkomer adalah bahan bangunan dasar dari sebagian besar sel-sel otot. Dalam tubuh manusia, setiap otot terdiri dari beberapa bundel serat otot. Serat otot ini, pada gilirannya, terdiri dari banyak helai halus yang disebut miofibril. Miofibril biasanya tidak nampak jelas kecuali dilihat di bawah mikroskop elektron, tetapi masing-masing miofibril terutama terdiri dari dua jenis filamen, disebut “tebal” dan “tipis”, dan masing-masing diatur dalam pengulangan sub-unit teratur. Setiap sub unit secara individual dikenal sebagai sarkomer, itu adalah pengaturan mereka berpola yang memberikan penampilan karakteristik otot lurik berpita (Budiyanto, 2014).
Sarkomer sendiri relatif sederhana. Pusat biasanya hanya memiliki bagian halus, wilayah tengah filamen tebal. Wilayah ini disebut zona H. Demikian pula, dalam banyak kasus tepi luar terbuat hanya dari filamen tipis, setidaknya ketika otot sedang beristirahat; ini membentuk daerah sempit di sekitar garis Z yang dikenal sebagai Band. Tujuan utama dari pengaturan ini adalah untuk memungkinkan kontraksi sarkomer, miofibril, dan seluruh otot, yang membantu membuat gerakan otot yang lebih efisien (Budiyanto, 2014).
5)        Endoplasmik retikulum.
b.         Paraplasma, antara lain:
1)        Lipid
2)        Glikogen
3)        Mioglobin.
Melihat kepada warna seratnya, otot lurik dibedakan menjadi 3 macam, yaitu (Yatim, 1990):
1.      Serat Merah
Merah karena banyak mengandung sitokrom dan mioglobin, pigmen pernafasan dalam otot yang berguna untuk mengikat O2 dari dalam darah. Sarkoplasma lebih banyak mengandung mitokondria dan granula, tetapi le bih sedikit mikrofilamen daripada serat putih. Serat merah lebih banyak di dalam gumpalan otot.
2.      Serat Putih
Putih, karena sedikit sitokrom, mioglobin, dan mitokondria. Terdapat di sebelah luar gumpalan otot.
3.      Serat Perantara
Perantara kedua macam serat di atas.

2.3.3   Otot Jantung
Dibina atas serat otot, lurik, bercabang-cabang dan bertemu dengan serat tetangga, sehingga secara keseluruhan terbentuk jalinan serat otot. Terdapat pada jantung. Persarafan autonom, tak di bawah kesadaran atau kemauan (involunter) (Yatim, 1990).
Miokardium (myocardium) jantung vertebrata tingkat tinggi terdiri dari serabut otot jantung yang berhubungan satu dengan yang lain membentuk jalinan. Semula otot jantung dianggap sebagai peralihan antara otot polos dan otot kerangka. Yang jelas bahwa otot jantung tergolong otot bergaris melintang yang satuannya disebut “serabut”. Bangun otot jantung dan otot kerangka tidak sama dalam beberapa aspek. Hubungan otot jantung melalui diskus interkalatus cukup kuat sehingga sulit dilakukan tepsing untuk memperoleh satu serabut secara terpisah. Pada otot kerangka maupun otot polos hal ini masih mungkin dilakukan (Genneser, 1994).
Seratnya rata-rata lebih kecil daripada serat otot lurik. Setiap serat otot jantung memiliki tonjolan-tonjolan dan kesamping membentuk percabangan, bertemu dengan percabangan sel otot tetangga. Tonjolan-tonjolan antara sel bertetangga setangkup rapat. Inti berada di tengah sel. Satu serat hanya memiliki 1-2 inti. Inti lebih tumpul ujungnya daripada inti serat otot lurik (Yatim, 1990).
Penelitian dengan mikroskup cahaya menunjukkan bahwa otot jantung memiliki serabut yang bercabang, yang berhubungan satu dengan yang lain melalui ujungnya (Genneser, 1994).
Seperti halnya dengan otot polos dan kerangka, otot jantung memiliki bagian-bagian sebagai berikut (Genneser, 1994):
1.        Sarkolemma
Keadaannya hampir mirip dengan sarkolemma otot kerangka, dinding luarnya mirip membran basal dengan fibril retikuler yang dapat terus berhubungan dengan tendon atau katup jantung. Di bagian lain berhubungan langsung dengan endomisium. Sel-sel yang dijumpai pada otot jantung: serabut otot (miosit), sel endotel, perisit, dan fibroblast.
2.        Sarkoplasma
Pada garis besar hampir mirip dengan otot kerangka, hanya saja otot jantung relatif memiliki sarkoplasma lebih banyak, terutama di sekitar inti yang terletak di tengah. Mitokondria, lipid, lipofuksin dan glikogen banyak terdapat pada sarkoplasma di sekitar inti. Garis-garis melintang hampir mirip dengan otot kerangka, meskipun susunan miofilamen tersusun secara acak. Sistem T cukup jelas pada otot jantung berbentuk invaginasi tubuler dari plasmalema dan lamina basalis di daerah cakram Z. Sistem T berperan dalam pertukaran metabolik dan transmisi impuls. Sarkoplasmik retikulum tidak sesubur pada otot kerangka, beberapa diantaranya berhubungan dengan sistem T.
3.        Inti
Berbeda dengan otot kerangka, pada otot jantung inti terdapat di tengah.
Diskus interkalatus berupa penebalan di daerah cakram Z, yang sebenarnya adalah daerah hubungan antara serabut otot jantung. Tebalnya dapat mencapai 0,5µ berbentuk tangga (Genneser, 1994).
Pada jantung selain terdapat otot untuk kontraksi terdapat pula bentuk modifikasi yang berfungsi sebagai pengatur rangsangan (stimulus) ke seluruh penjuru jantung, yang dikenal sebagai “serabut purkinje”. Secara histologi dapat dibedakan dengan otot jantung biasa sebagai berikut (Genneser, 1994):
a.         Diameter serabut purkinje lebih besar dari otot jantung.
b.        Miofibril jauh lebih sedikit dan tersusun di bagian tepi sejajar dan agak mengulir. Pada batas serabut tampak lebih jelas. Bentuk garis melintang tidak jelas pada serabut purkinje.
c.         Inti lebih besar dan pucat. Dalam satu serabut sering terdapat 2 inti berdampingan.









Gambar 6 dan 7: Serabut Purkinje (Genneser, 1994).
Serabut purkinje menyusun diri dalam berkas, dengan ruang Ebert-Bellajev dibagian tepi serabut. Secara elektron mikroskopis struktur discus interkalatus tidak jelas pada otot jantung biasa, sebab ujungnya berhubungan dengan otot jantung biasa. Di daerah ini perubahan bentuk berlangsung secara bertahap.





























BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Jaringan otot merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja mekanik dengan jalan kontraksi dan relaksasi sel atau serabutnya. Otot dapat melekat di tulang yang berfungsi untuk bergerak aktif. Otot tersusun atas beberapa gumpalan, gumpalan terdiri dari beberapa berkas otot, yang disebut fasciculus. Tiap berkas dibina atas banyak serat otot. Satu serat otot adalah 1 sel otot. Serat otot memiliki terdiri dari komponen seperti sarkolemma, sarkoplasma, inti, dan Organelnya yang penting yaitu retikulum sarkoplasma, mitokondria, dan miofibril. Setiap miofibril dibina atas puluhan mikrofilamen. Mikrofilamen otot ialah aktin dan miosin, yang bersusun berjejer dan berdempet.
Jaringan otot dibedakan menjadi 3 jenis yaitu otot polos, otot lurik, dan otot jantung. Otot polos terletak pada saluran alat-alat di dalam tubuh manusia seperti manusia seperti yang terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dinding pembuluh darah, dinding rahim, saluran pernapasan, dan saluran kelamin. Otot lurik melekat pada rangka, dan otot jantung hanya terdapat pada dinding jantung.
Otot menjadi begitu penting bagi tubuh karena ia memiliki 3 fungsi utama yaitu melaksanakan gerakan, memelihara postur dan memproduksi panas pada tubuh.












DAFTAR PUSTAKA

Ambardini, RL. 2012. Histologi: Jaringan Otot. Website: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/HISTO-JARINGAN%20OTOT.pdf. Diakses pada hari Kamis, tanggal 26 Maret 2015, pukul 13.52 WIB.

Budiyanto. 2014. Pengertian Sarkomer. Website: http://www.sridianti.com/pengertian-sarkomer.html. Diakses pada hari Senin, tanggal 30 Maret 2013, pukul 11.15 WIB.

Genneser, F. 1994. Buku Teks Histologi. Jilid I. Jakarta: Binapura Aksara.

Junqueira LC dan Carneiro J.  1980.  HISTOLOGI DASAR. Diterjemahkan  oleh Adji Darma. Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

Soewolo, dkk. 2003. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.

Subowo. (2002). Histologi Umum. 1st Ed. Jakarta: Bumi Aksara.

Yatim, Wildan. 1990. Biologi Modern Histologi. Bandung: Penerbit Tarsito.

4 comments:

  1. pelit amat , gk bisa di copas
    huuuh

    ReplyDelete
  2. DEMI APA LAGI SEARCH TUGAS EH DESAIN WEB NYAAA 😍 hey army, nice to meet you. Im Jimin wife ^_^

    ReplyDelete
  3. design web nya BTS LOVE YOUR SELF dong, ya ampun yang tadi nya malas ngerjain tugas eh pas ketemu ama bangtan di sini jadi semangat lagi. salam army

    ReplyDelete